5 Faktor Pendukung Terciptanya Work Culture Yang Sehat

Harisenin.com
3 min readMar 4, 2022
Faktor Pendukung Tercapainya Work Culture yang Sehat

Dalam memutuskan untuk melamar suatu pekerjaan, salah satu aspek penting yang perlu dijadikan sebagai bahan pertimbangan adalah work culture. Dimana suatu perusahaan bisa memperlihatkan kepada calon karyawannya secara tegas bagaimana tujuan dan nilai mereka dari work culture yang diterapkan secara sehat

Dilansir dari Indeed work culture adalah sekumpulan sikap, perilaku, dan keyakinan yang membentuk tradisi atau suasana dalam lingkungan kerja. Dimana work culture di suatu perusahaan ini nantinya akan memberikan pengaruh pada seberapa besar potensi pertumbuhan, keseimbangan kehidupan kerja, dan kepuasan dalam bekerja.

Seperti yang kita tahu, seiring berjalannya waktu setiap perusahaan pasti memiliki work culture yang unik dan berbeda-beda. Maka dari itu kali ini Harisenin akan mengulas lebih lanjut faktor-faktor pendukung apa saja yang bisa mempengaruhi terbentuknya work culture yang sehat.

5 Faktor Pendukung Terciptanya Work Culture

1. Akuntabilitas

Faktor pertama adalah akuntabilitas yang terbuka, dimana perusahaan memberikan keterbukaan sehingga memungkinkan setiap karyawannya untuk belajar dari tantangan alih-alih menghindarinya serta memberikan rasa nyaman dalam menghargai ide dan kesalahan yang dilakukan karyawan.

Apabila diterapkan secara baik faktor akuntabilitas ini akan menumbuhkan work culture yang sehat berdasarkan kerja sama tim, komunikasi yang terbuka, dapat saling dipercaya dan tanggung jawab.

2. Ekuitas

Faktor kedua adalah Ekuitas, dimana work culture ini dapat terlihat dari perusahaan yang bisa memberikan perlakuan yang sama kepada semua karyawannya.

setiap posisi di perusahaan harus memiliki prinsip untuk memberikan kesempatan secara adil kepada setiap karyawan dalam meningkatkan semangat kerjanya.

Sebaliknya dengan favoritisme di perusahaan merupakan tanda adanya work culture yang kurang sehat, yang dapat menimbulkan masalah lain seperti perasaan tidak percaya dan kebencian di antara rekan kerja.

3. Ekspresi

Faktor ketiga adalah kebebasan dalam berekspresi, dimana Karyawan pada umumnya pasti akan merasa bisa lebih bahagia, lebih produktif, dan lebih fokus ketika mereka diberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri di tempat kerja.

Dengan adanya hal tersebut dapat menunjukan bahwa terdapat tingkat kenyamanan dalam work culture yang sehat

4. Komunikasi

Faktor keempat adalah komunikasi yang terbuka. Keterbukaan dalam berkomunikasi di tempat kerja ini sangat penting untuk mendukung adanya work culture yang sehat dan produktif.

Dimana setiap orang dalam perusahaan harus bisa memahami bagaimana cara memberi dan menerima umpan balik, berbagi ide-ide kreatif, berkolaborasi, dan memecahkan masalah atau tantangan bersama.

5. Pengakuan atau Penghargaan

Faktor kelima adalah pemberian pengakuan atau penghargaan pada setiap keberhasilan karyawan. Work culture yang sehat akan berkenbang dengan manajrmen di lingkungan yang positif dari setiap orang dalam tim dan saling mendukung untuk mengembangkan potensi masing-masing.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dalam membentuk work culture yang sehat merupakan tanggung jawab bersama antara perusahaan yang perlu menyelaraskan antara tujuan dan kebijakan perusahaan dengan kesejahteraan setiap karyawannya, bersamaan dengan setiap orang yang bekerja di perusahaan tersebut untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka dalam menunjukkan work culture yang sehat.

--

--

Harisenin.com

#1 Work-based Learning Platform. 🎓 Harisenin Millennials School 💁‍♀️ Harisenin Mini School 👩‍💻 Live Class #SadarHarusBelajar lynk.id/harisenin.com